Manggarai, fn-online.com. Ilmu pengetahuan ala Manggarai sudah mengenal apa yang disebut metamorphosis ular hijau. Barangkali biolog dan masyarakat umum tidak mempercayaianya. Tetapi di Manggarai itu ada dan nyata.
 
          Salah seorang warga keturunan Manggarai, Sobina Sidung (Almh) pernah menyebutkan soal metamorphosis ular hijau (Meta diambil dari Bahasa Latin yang artinya tujuan. Morf adalah urutan fonem yang berasosiasi dengan suatu makna. Fonem adalah satuan bunyi terkecil yang mampu membedakan makna.
 
          Sedangkan, osis diambil dari bahasa Latin yang artinya kasar. Menurut kamus besar bahasa Indonesia, metamorfosisme adalah perubahan peralihan dari bentuk asal menjadi bentuk baru seperti ulat menjadi kepompong dan berganti menjadi kupu-kupu; perubahan bentuk, perubahan susunan-red).
 
       Dia menyebutkan bahwa perubahan bentuk ular hijau tersebut ada empat tingkat. Tingkatnya dari Kaka Ta’a (ular hijau) berubah menjadi Liko Dango (ular hijau yang ekornya berubah pelan-pelan menjadi hitam), kemudian berubah menjadi Mbawa Rani (bentuknya agak merah dan semakin pendek, tajinya mulai tumbuh), dan tingkat keempat menjadi Manungge (tampak semakin pendek, memiliki kaki, muncul taji dan rupanya seperti ayam dan dapat berkokok seperti ayam. Sayapnya pun muncul).
 
          Menurut Ibu Sobina, Manungge dan Mbawa Rani sukar untuk ditemukan. Hewan ini hidup di rawa yang dekat dengan mata air tetapi tempatnya serem, sukar dimasuki oleh manusia (dalam istilah orang Manggarai one po’ong cengit-red). Meski dia ada di tempat tersebut tetapi sukar dapat dilihat dengan mata telanjang. Orang yang dapat melihat Mbawa Rani dan Manungge biasanya akan segera meninggal bila jiwanya tidak kuat. Banyak terjadi di Manggarai orang-orang yang mengaku pernah melihat itu tidak lama akan meninggal.
 
           Hal yang sama disampaikan oleh Bernadus Hadut dan Yohanes Ngagut bahwa benar ular hijau itu bermetamorfosis empat tingkat. Menurut mereka metamorphosis itu bukan ceritera bohong tetapi di Manggarai itu adalah fakta, nyata, riil. Bahkan hingga masa kini ini, Manungge itu masih ada dan tidak akan musnah.
 
         Di Manggarai tidak hanya metamorphosis ular hijau yang menjadi hewan yang mematikan dan menakutkan karena hanya dengan melihat saja, mereka dapat membunuh manusia apalagi kalau memukul. Ular tersebut adalah Kaka Mu’u Bali.  Kaka Mu’u Bali adalah sejenis ular yang bermulut bolak-balik, tidak diketahui mana mulutnya, mana ekornya. Semua yang dilihat adalah hanya mulut di masing-masing sisi. Ular ini juga sangat mistis karena siapapun yang melihat dia, orang itu akan segera meninggal. Kaka Mu’u Bali ini dikenal juga sebagai Kaka Ireng (ireng adalah suatu yang dilarang, tabu atau haram; menakutkan-red).
 
           Sedangkan, ular sawah atau Nepa ada dua jenis. Ular sawah yang biasa, warnanya batik, rupanya seperti kain orang Sikka, Ende dan Ngada di Flores. Selain ular sawah biasa, ada juga ular sawah merah, yang kulit tubuhnya berwarna merah. Orang Manggarai mengenalnya Nepa Darat. Cirinya berwarna merah, dia hidup di rawa-rawa dan daerah panas, panjangnya kira-kira tiga meter. Kecepatan larinya melampaui kecepatan kucing. Nepa Darat ini sukar ditemukan. Adanya Nepa Darat pernah diakui oleh salah orang Manggarai Theodorus Tamat dan dibenarkan oleh Yohanes Ngagut. Menurut Ngagut, Nepa Darat tersebut jantan dari ular sawah biasa atau Nepa biasa.
 
           Selain beberapa ular yang disebutkan di atas ada juga jenis ular lain yang mematikan di Manggarai, misalnya di Lembor, Kabupaten Manggarai Barat, NTT dengan nama Kaka Botek. Kaka Botek ini ukuran badannya pendek, jalannya seperti jalan linta darat. Warnanya seperti warna kain yang sudah usang. Kalau dipukul harus tidak boleh lepas tetapi tekan dan tahan ke tanah. Bila tidak, dia akan melompat dan menyerang balik. Serangannya bisa menimbulkan kematian. Tetapi dia berbeda dengan Mbawa Rani, Manungge dan Mu’u Bali yang kalau dilihat sebagai tanda kematian, sedangkan melihat Kaka Botek tidak demikian kecuali kalau digigit. 
 
           Selain itu, di Manggarai ada juga yang disebut Mahkota Ular. Hal ini biasa terjadi dan diakui di Istana Ular di Lembor, Manggarai Barat, NTT oleh warga setempat. Mahkota Ular tersebut atau disebut Mustika Ular tersebut banyak diakui oleh orang-orang Manggarai. Ular yang bermahkota itu akan muncul pada saat bulan purnama.
 
          Berdasarkan jenis-jenis ular di atas, orang Manggarai menyebut daerahnya sebagai Nuca Lale. (Nuca Lale artinya pulau ular mulai dari Manggarai, Barat dan Manggarai Timur). Sedangkan, kata asli Pulau Flores adalah Nusa Nipa. (Nipa artinya ular, nusa artinya pulau, maka Pulau Flores sebenarnya Pulau Ular sama seperti Manggarai disebut Pulau Ular, Tanah Ular, Nuca Lale - red).  (Ditulis, Jumat, 2 Agustus 2013). (Melky Pantur/ rd )