FN-online.com

KURIKULUM KARAKTER 2013


Pasuruan,FN-online.com -Rencana penerapan Kurikulum 2013 oleh Kementerian      Pendidikan dan Kebudayaan terus menuai protes dari berbagai kalangan, di antaranya  adalah Forum Peduli Pendidikan Nasional Katolik yang melakukan demonstrasi menolak Kurikulum 2013. Alasan penolakan yang dikemukan forum ini adalah: Pertama, kurikulum 2013 tidak memberi otonomi bagi para guru di mana semua perangkat pembelajaran disusun oleh Pemerintah Pusat. Kedua, penerapan kurikulum 2013 tidak didasarkan pada sebuah kajian yang jelas serta evaluasi terhadap Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) 2006. Ketiga, belum ada sosialisasi dan pelatihan perihal kurikulum dimaksud kepada semua stakeholder pendidikan, terutama guru sebagai ujung tombak pendidikan. Keempat, totalitas penerapan KTSP 2006 belum tercapai (Pos Kupang, 20/4/2013). Selain itu, menurut Pater Stefanus Sabon Aran, SVD, M.Pd, Kepala SMA Katolik Syuradikara Ende, penerapan kurikulum 2013 juga akan mengorbankan ribuan guru bahasa Inggris di Sekolah Dasar karena mata pelajaran tersebut, sebagaimana diatur dalam Kurikulum 2013, akan dihapus dari mata pelajaran Pendidikan Dasar (Pos Kupang, 20/4/2013).  Di samping itu, Retno Litsyarti, perwakilan dari Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI), menjelaskan,  draf kurikulum 2013 akan membuat ribuan guru kehilangan pekerjaan. Salah satunya  adalah guru yang mengajar Teknologi Informasi Komunikasi Teknologi Informatika Komputer (TIK) pada jenjang SD, SMP dan SMA kehilangan pekerjaan karena kurikulum ini. Sebab, banyak kelebihan guru di tengah minimnya jam mengajar yang akan diterapkan pemerintah. (Pos Kupang, 19/4/2013).

Menelisik argumentasi penolakan Kurikulum 2013 di atas, penulis ingin memberikan tanggapan atas penolakan tersebut; Pertama, penerapan Kurikulum 1947 yang berisi Rencana Pelajaran Terurai hingga pada KTSP 2006 atau penjabaran  Kurikulum Berbasis Kompensi (KBK) 2004 belum berhasil mendobrak kualitas pendidikan di Indonesia khususnya di NTT karena hanya menekankan aspek kognitif (cognitive domain) saja sedangkan aspek afektif (affective domain)  dan psikomotorik (psychomotoric domain) diabaikan sehingga berdampak pada semakin maraknya tawuran pelajar/mahasiswa, dan lebih parah lagi banyak output kurikulum lama seperti pejabat pemerinthan yang terlibat korupsi, kolusi dan nepotisme. Kedua, terjadi ketidakadilan bagi seluruh peserta didik di seluruh tanah air khususnya  di NTT. Dengan adanya bahasa Inggris pada tinggkat SD dan pelajaran TIK pada Pendidikan Dasar dan Menengah, peseta didik di daerah pedesaan merasa dikucilkan atau dianaktirikan karena mereka tidak pernah merasakan belajar bahasa Inggris. Hal ini diakibatkan tidak tersedianya guru bahasa Inggris pada Sekolah Dasar di daerah-daerah pedesaan, sementara  Pemerintah hanya mengalokasikan guru bahasa Inggris pada Sekolah Dasar di daerah perkotaan. Dengan perkataan lain, guru bahasa Inggris hanya ada di daerah perkotaan. Hal ini berdampak pada proses pendidikan lanjutan di mana peserta didik dari daerah pedesaan merasa minder dalam kelas karena tidak bisa bersaing dengan peserta didik yang lulus dari daerah perkotaan. Demikian pun mata pelajaran TIK, peserta didik di daerah pedesaan pun belum tersentuh dengan ilmu TIK, karena kekurangan fasilitas seperti listrik, LCD dan komputer serta guru mata pelajaran TIK, yang walaupun ada tetapi peserta didik hanya mengkonsumsi teori meluluh dari mata pelajaran TIK, yang diajarkan oleh guru yang berbekalkan kursus komputer sementara pelajaran TIK memerlukan lebih banyak praktek agar mereka bisa memperoleh skill bagaimana cara mengoperasi Internet Technology Computer (ITC). Ketiga, Salah satu faktor rendahnya mutu pendidikan di NTT adalah guru sibuk dengan urus perangkat pembelajaran sehingga terkesan proses pembelajaran menjadi kering di kelas atau lupa tugas pokok mengajarnya di kelas karena guru sibuk buat perangkat pembelajarn.

Substansi Kurikulum 2013 adalah pendidikan karakter (character building), karena itu, penulis mendefenisikan kurikulum 2013 sebagai Kurikulum Karakter (character curriculum) 2013, karena dalam proses pembelajaran dan metode pembelajaran sampai pada semua perangkat pembelajaran (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran, Silabus, Media Pembelajaran, Assessment, Lembar Kerja Siswa, Bahan Ajar) mengandung  nilai-nilai karakter manusia, seperti nilai kejujuran (honesty), tanggug jawab (responsibily), kerjasama (cooperative), kesopanan (politeness), percaya diri  (confidence), dan sebagainya.
Pandor (2010: 90) mengatakan pendidikan karakter (character building) adalah peserta didik ditawarkan kedalaman; bukan rupa melainkan isi; bukan ijazah melainkan kompetensi; bukan hanya pintar menguasai konsep, tetapi juga memiliki karakter yang kuat dan life skills; bukan mengumpulkan ilmu tetapi pembentukan karakter. Lebih lanjut ia menguraikan bahwa dalam mewujudkan hal ini sering berbenturan dengan moto “lebih cepat, lebh baik.” Karena menurut pencetusnya, bertindak efisien dan efektif sangat diperlukan di tengah arus zaman yang penuh tantangan. Moto ini memang cocok untuk menyikapi perubahan yang terus melaju dengan cepat agar  tidak ketinggalan zaman. Namun dalam konteks pendidikan, yang menekankan kualitas, proses sangat dijunjung tinggi. Jadi bukan soal “lebih cepat lebih baik.” Karena itu kesetiaan dan  ketekunan untuk berjalan dalam proses merupakan syarat yang perlu dilalui oleh peserta didik yang mengutamakan kualitas. Sebab yang diperhatikan adalah pembentukan manusia seutuhnya.

        Pertumbuhan pribadi secara penuh dan utuh merupakan tujuan pendidikan. Pendidikan memerlukan sentuhan humaniora agar menghasilkan orang-orang yang kreatif, aktif, dedikatif, realistik, berdaya cipta, berdaya rasa, mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan. Bukan sekedar transformasi ilmu atau penguasaan keterampilan teknis belaka. Bukan berlimpahnya pengetahuan melainkan merasa dan mengecap dalam-dalam kebenaran maka akan merasa damai, puas dan bahagia. Senada dengan itu, Ignasius Loyola mengatakan bahwa  pendidikan tidak hanya menekankan kecerdasan intelektual (intelectual compotence), tapi juga berkaitan dengan aspek tanggung jawab mengikuti suara hati (conscience) dan bela rasa terhadap sesama (compassion). Lewat aspek ini, anak dibentuk menjadi pribadi yang berkarakter seperti peserta didik yang kuat dalam ilmu pengetahuan, kebersihan, kesucian dan kebijaksanaan. Dalam psikologi pendidikan, sasaran yang hendak dicapai dalam pendidikan karakter (character building) adalah perpaduan antara Kecerdasan Intelektual (Intelectual Question=IQ), Kecerdasan Emosional (Emotional Question=EQ) dan Kecerdasan Spiritual (Spiritual Question=SQ) ) (Bdk. Pandur, 2010:90). Selain itu, menurut Lickona, pendidkan parakter (character building) merupakan usaha sengaja untuk menolong agar memahami, peduli akan dan bertindak atas dasar nilai-niali etis. Guru berperan mengarahkan siswa untuk semakin mencintai kebenaran. Ungkapan sementara mengajar dan belajar menunjukkan bahwa tugas utama seorang guru, bukan hanya mengajar tetapi juga belajar. Bersama dengan peserta didik, ia belajar mencari kebenaran dan menerapkanya adalam kehidupan agar menjadi manusia bijak (Bdk. Pandur, 2010:81). 

        Berangkat dari uraian di atas, penulis menawarkan beberapa solusi berikut: Pertama, banyak program yang dibuat oleh Pemerintah Pusat yang sangat membantu meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia, salah satu diantaranya adalah perubahan KTSP 2006 atau sering disebut sebagai penjabaran KBK ke Kurikulum 2013 yang sampai saat ini terus menunai protes dari masyarakat karena belum disosialisasikan ke masyarakat. Oleh karena itu, Pemerintah Pusat harus segerah mensosialisasikan kurikulum 2013 supaya masyarakat, Dewan Pendidikan dan Pemerintah Daerah mengetahui secara komprehensif  substansi yang akan diterapkan dari kurikulum 2013. Jangan sampai masyarakat masih terus berpikir samar-samar tentang substansi kurikulum 2013. Kedua, Pemerintah Daerah, Elemen Masyarakat, Dewan Pendidikkan tidak boleh  melihat aspek keuntungan dan kerugian dari penerapan Kurikulum 2013 dalam arti karena tidak terlibat dalam proses perancangan dan penyusuan perangkat pembelajaran Kurikulum 2013 atau bahasa kasarnya tidak mendapat fee dari penerapan Kurikulum ini lalu melakukan protes, tetapi setelah terlibat dalam proses maka diam seribu bahasa. Contohnya, Proses Perekrutan Tenaga Pengajar Sarjana Mendidik di Daerah 3T (SM-3T) angkatan pertama masyarakat NTT menolak tetapi setelah mengambil bagian di dalam proses penjaringan semua menjadi diam seribu bahasa. Ketiga, colective collegial dalam arti jadikan kurikulum 2013 sebagai tanggung jawab bersama menuju peserta didik yang berkarakter (character building) di Indonesia dan demi tercapainya generasi emas Indonesia yang berkarakter dan berjiwa Pancasilais.

Oleh: Sefrianus Jemandu, S.Pd, Mahasiswa Pendidikan Profesi Guru (PPG) Pasca SM-3T 2013 Universitas Negeri Malang

Share this post :

+ komentar + 1 komentar

Poskan Komentar

Berikan tanggapan yg bijak & santun !!

Kades Ngawongso

Kades Ngawongso

keluarga Besar Diknas Pendidikan Kab.malang

keluarga Besar Diknas Pendidikan Kab.malang

Template Information

KURSTengahJualBeli
USD9.71710.1069.328
EUR12.44412.94211.946
GBP14.75815.34814.168
JPY10310799
MYR3.1383.2643.012
SGD7.8378.1507.524
HKD1.2521.3021.202
CNY1.5641.6271.501
SAR2.5912.6952.487
AUD10.13010.5359.725
Update: YF, 29-03-2013 14:01 WIB kurs tengah/jual/beli nilai tukar Rupiah
     
    Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
    Copyright © 2011. FN-online.com - All Rights Reserved
    Template Created by Creating Website Published by Mas Template
    Proudly powered by Blogger