2013, Pemerintah Harus Segera Antisipatif Terutama Ketahanan Varietas Padi Sawah

Manggarai, FN-online.com. Sentra pangan masyarakat Manggarai raya yang mengandalkan padi sebagai makanan pokok, makanan harian sebagaimana masyarakat daerah lainnya di Indonesia, sepanjang tahun 2010-2012 masyarakat dilanda oleh tidak maksimalnya penghasilan padi sawah. Hal itu, banyak masyarakat yang harus berutang dan lebih sadis lagi makan lontar dan ubi hutan.
Kondisi masyarakat yang malang tersebut disebabkan oleh banyaknya areal persawahan yang tidak memberikan hasil apa-apa, seperti di Lembor, Terang, Cancar, Satar Mese dan Satar Mese Barat, Reo, dan areal persawahan dan ladang di Manggarai Timur.
Masyarakat Manggarai Barat beberapa tahun terakhir, seperti di Lembor, masyarakat harus menahan lapar karena terjadinya kekeringan yang disebabkan oleh kekurangan air dan terserang hama. Sementara di Terang dan di Boleng, serangan hama wereng terjadi di seluruh hamparan di sawah di Terang. Masyarakat setempat mengeluh karena penghasilan 4 ton/ha pada tahun-tahun sebelumnya, namun 2011 per hektar hanya 400 kg saja hasilnya. Di Terang, 2012 juga sangat menurun.
Dalam kondisi tersebut, Juni 2011, masyarakat di lembah Terang, Kecamatan Boleng, Kabupaten Manggarai Barat pada saat itu  warga terpaksa ungsi komsumsi, mengalih dari mengonsumsi beras ke mengonsumsi ubi hutan dan mbutak (mbutak sejenis tumbuhan enau yang daun-daunnya biasa digunakan oleh warga sebagai pengatap rumah di daerah pesisir pantai, yang kambiumnya dijadikan sebagai bahan makanan menggantikan beras dan ubi-red), termasuk makan raut yaitu ubi hutan.
Kejadian tersebut sama persis ketika Manggarai Raya terkena bencana krisis pangan pada tahun 1972, di mana warga harus mencari raut  dan terpaksa membelah batang enau  dan mengambil kambiumnya untuk dimakan karena tidak ada penghasilan apa-apa. Sulitnya juga, mbutak dan raut tersebut harus direndam dulu selama beberapa hari, baru bisa dikonsumsi. Sementara, Terang adalah juga daerah rawan air bersih.
Tahun 2011, Terang sangat serem karena semua hamparan besar mulai dari kampung Bentala, Golo Cepang, Berheleng, Lando,  Lekaturi, Golo Garang,  hingga Terang besaran hamparan padi diserang penyakit yang dari kondisi fisik padinya tidak bisa dituai karena batang padi hitam kemerah-merahan. Sangat tidak elok dipandang mata. Beberapa warga yang dimintai komentarnya, kepada wartawan mengaku bahwa mereka sangat lapar, bahkan mereka mulai berbondong-bondong ke hutan mencari ubi hutan (dalam bahasa daerahnya raut) dan mbutak.
Di Kabupaten Manggarai, serangan hama juga terjadi di Reo, Satar Mese dan Satar Mese Barat dan di Cancar. Disaksikan oleh media ini, banyak padi di Satar Mese dan Satar Mese Barat terkena hama, warna padi tidak hanya kemerah-kemerahan tetapi juga agak hitam sehingga tidak dapat bertumbuh dan memberikan buah dan hasil yang memuaskan. Hama tersebut adalah hama wereng dan tungro.
Menurut Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Holtikultura Kabupaten Manggarai, Ir. Vinsen Marung bahwa serangan hama di Satar Mese dan Satar Mese Barat disebabkan oleh virus tungro yang dikenal sangat kebal meski dihantam obat. Virus tungro bekerja melalu hama wereng hijau dan rumput teki-tekian di celah-celah batang padi. Virus ini dapat diputuskan dan mati dengan cara mengatur pola tanam. Cara lain untuk memutuskan mata rantai virus ini yaitu dengan menanam tanaman semusim di dalam petak sawah seperti jagung dan kacang-kacangan. Bisa juga diberotkan atau diistrahatkan baik dari tanaman juga dari aliran air, lalu lakukan penyemprotan untuk memusnahkan teki-tekian sebagai tanaman inang tungro.
Di Satar Mese dan Satar Mese Barat, serangan terhadap padi sawah tidak hanya dilakukan oleh hama wereng dan tunggro tetapi juga oleh belalang. Tahun 2012, banyak sekali belalang yang berterbangan di areal persawahan Satar Mese dan Satar Mese Barat. Jumlah mereka sangat banyak. Hal itu disaksikan oleh media ini di areal persawahan di sana.
Semantara itu, Februari-Mei 2012, Kabupaten Manggarai Timur juga ditimpa krisis pangan. Hal itu dipicu oleh belalang kembara yang menyerang padi di lahan pertanian warga Desa Rana Kolong, Kota Komba pada April. Sebelumnuya, pada Februari, menyerang padi perladangan Mbomlala dan Jerembolo.
Tidak berbeda dengan kejadian di Lembor beberapa tahun lalu, di Manggarai Timur juga awalnya belalang kembara makan daun bambu hijau dan daun kelapa di kampung Saghe selama dua hari. Dari Saghe terbang ke Bongi Lejong. Hal ini dikatakan oleh warga Desa Ranakolong, Lorensius Ngapan kepada wartawan.


Suara Masyarakat
Salah seorang warga Golo Garang, Desa Golo Cepang, Kecamatan Boleng, Kabupaten Manggarai Barat,Vinsensius Saur (33), saat dikonfirmasi fn-online.com, Jumat (1/2) per telpon mengatakan  bahwa salah satu kendala masyarakat petani sawaj adalah serang hama walang sangit dan hama wereng, termasuk di Terang. Kepada Pemkab Mabar, Saur meminta agar Pemkab Mabar secara serius mengurus pertanian dan harus turun langsung di lokasi untuk membantu para petani sawah yang padinya terserang hama.
Kendala sekarang menurut Vinsen, banyak sekali beras yang masuk dari luar daerah Manggarai pada umumnya. Maka, kendalanya adalah masyarakat setempat semakin susah karena banyak beras dari ,luar yang dijual dengan harga yang sangat mahal sementara masyarakat terutama pedagang beras sangat sulit mendapat untung. Terkait dengan persoalan itu, dirinya meminta kepada tiga Pemkab, baik Manggarai, Manggarai Barat maupun Manggarai Timur agar segera memperhatikan persoalan ini.
“Saya minta ketiga Pemkab di Manggarai raya harus serius urus persoalan rakyat terutama penyakit padi yang menimpa para petani. Di Terang, PPL ada tetapi tidak pernah melakukan penyuluhan para petani tentang solusi untuk mengatasi penyakit dan cocok tanam yang baik. Jadi, kalau bisa para Bupati memperhatikan serius terhadap petani terutama mengirim ahli pertanian agar terjung langsung ke lokasi”, pinta Vinsen.
Ketua DPC Partai Nasdem, Kecamatan Boleng, Manggarai Barat itu mengatakan bahwa kendala di Manggarai pada umumnya terutama di Terang adalah penyakit padi sawah, irigasi, penerangan dan jalan raya. Karena itu, kepada Cagub dan Cawagub NTT dirinya meminta agar mereka memperhatikan kepentingan rakyatnya. “Saya meminta kepada Cagub dan Cawagub NTT agar  memperhatikan penyakit padi sawah, irigasi, penerangan, jalan raya setelah naik menjadi NTT I”, pinta Vinsen.
Warga Tal, Desa Tal, Satar Mese, Klaudius O. Maris (35) saat dikonfirmasi fn-online.com per SMS, Jumat (1/2) terkait penyakit padi yang melanda Satar Mese dan Satar Mese Barat mengatakan bahwa penyakit padi di Satar Mese dan Satar Mese Barat hampir berjalan satu tahun. Dikatakannya bahwa kejadian itu sebenarnya dikatakan sebagai kejadian luar biasa di tengah marak dan canggihnya jenis pupuk untuk padi.
“Jikalau ini pemanasan global, kenapa di tempat lain bisa panen raya? Saatnya perlu pergantian varietas untuk sementara seperti Lembor tidak menanam padi hampir setahun dan sekarang baru tanam lagi, hasilnya baik. Pemkab Manggarai agar jangan masa bodoh tetapi pergi kepada rakyat dan tinggallah bersama mereka beberapa hari saja”, kata Maris.
Aktivis Swiscontact Agen wilayah Manggarai Barat, Manggarai dan Ngada itu, kepada Cagub dan Cawagub meminta agar saat menjadi NTT I harus mengalokasikan tenaga dan biaya pendampingan petani. Dikatakannya pula bahwa mereka harus pro poor development atau keberpihakan kepada pembangunan masyarakat miskin. Selain itu, perlu melakukan revolusi pertanian di NTT. “Saya minta Cagub dan Cawagub sekarang, apabila menang, tolong mengalokasikan dana dan biaya pendampingan petani, dan yang lebih penting adalah keberpihakan pada pembangunan masyarakat miskin”, pinta Loddy.


Pemerintah Dorong Masyarakat Tanam Padi Inpari 13
November 2012, Pemerintah Kabupaten Manggarai melalui Badan Penyuluhan Pertanian dan Ketahanan Pangan (BP2KP) melakukan pola penanaman baru, yaitu pada Inpari 13 (inbrida padi sawah irigasi yang merupakan hasil persilangan antara Om 606 dengan Ir 18348). Menurut Kaban BP2KP Kabupaten Manggarai, Ir. Ferdy Pantas, M. Si, padi ini sangat cocok di Manggarai raya. Metode penanaman menurutnya, 1:1 per lobang, usianya 120 hari, jumlah benihnya 20 kg/ha, anaknya rata-rata 23 pohon dan ada yang 31 anak.
Padi Inpari 13 ini per hektar bisa menghasilkan 7 ton. Namun, untuk menghasilkan 7 ton membutuhkan pupuk organik granula 2.500 kg, pupuk NPK 900 kg, pupuk urea 300 kg, pupuk organik cair 15,5 liter, insektisida 5 liter. Percobaan pertama dilakukan di Ponggeok, Satar Mese, Manggarai Barat. (Melky Pantur/rd)